Seni dan Ilmu Intelijen ( 1 )



Elisitasi

Adalah seni menggali informasi tanpa diketahui nara sumber atau sumber informasi kalau sedang digali informasinya melalui percakapan verbal.

Biasanya informasi yang diperoleh dalam bentuk potongan-potongan informasi, perlu beberapa kali pertemuan agar potongan-potongan informasi ini dapat disusun menjadi satu bentuk informasi utuh.

Bayangkanlah :

Misi kita mencari informasi seseorang yang disinyalir tinggal dalam sebuah kawasan perumahan. 

Pertama kita harus mengetahui keadaan perumahan tersebut, terbuka ( jalan di perumahan sudah menjadi jalan umum ) bukan perumahan dengan One Gate System. Ada area publik tempat berkumpulnya orang-orang.

Ternyata ada sebuah warung kopi di pintu masuk perumahan. Kita bisa duduk-duduk sambil ngopi, bisa dipastikan akan ada yang membuka percakapan dengan kita, minimal pemilik warung menawari kita barang dagangannya.

"Mau minum apa pak?" Tanya nara sumber

"Kopi hitam, pak" Jawab kita

"Kalau jam segini, memang seperti ini daerah sini, sepi" kita awali obrolan 

"Iya pak, jam segini sudah sepi, nanti jam 20.00 baru agak ramai, orang-orang pada pulang kerja" jawab nara sumber ( info yang di dapat sebelum jam 20.00 suasana sepi, jam 20.00 suasana agak ramai )

"Sudah berapa lama bapak jualan di sini?" Tanya kita ( Seberapa valid informasi dari nara sumber )

"Sudah lama pak, sejak perumahan ini dalam tahap pembangunan" jawab nara sumber ( informasi dari nara sumber valid, minimal dengan tolak ukur lamanya tinggal dan mengamati lalu-lalang penghuni perumahan )

"Berarti bapak sudah hapal ya, semua penghuni perumahan" tanya kita lagi ( memastikan hasil pengamatan nara sumber )

"Apal nama sih nggak pak, kalau wajah sama mobil dan dia tinggal di blok apa, masih tahu" jawabnya ( Fix, informasi dari nara sumber bisa dijadikan pijakan utama )

"Bapak mencari seseorang?'" Lanjut Nara sumber ( mulai menyelidiki siapa kita? Hal ini biasa terjadi, karena banyak faktor )

"Nggak pak, dulu ada teman kontraktor yang tinggal di daerah sini, kalau nggak salah di perumahan ini" jawab kita ( Deception atau pengalihan makna pembicaraan nara sumber )

"Namanya pak A" Lanjut kita lagi ( Mulai menggali informasi )

"Pak A orangnya baik, sudah seperti saudara dengan saya" Sambung kita ( Membangun Image tentang hubungan target dengan kita ) 

"Orangnya ringan tangan, saya sering berkeluh kesah kepadanya" sambung kita lagi ( mempertegas narasi ) 

Berhenti sejenak sambil memperhatikan reaksi nara sumber, secara sederhana, minimal ada 3 reaksi ( Positif, negatif dan Netral ) seperti halnya mengendarai mobil atau motor ( Belok kiri, Belok kanan dan Lurus ) selain reaksi itu hanya merupakan turunan reaksi itu.

Reaksi bisa spontan ( jujur ) terdiam sejenak ( berpikir dulu untuk menyajikan yang terbaik ) menyangkal atau terdiam.

Kesesuaian pernyataan dari nara sumber dengan mimik wajah, bahasa tubuh dan intonasi suara.

"Ooo, pak A yang tinggi besar, berkulit putih, pakai mobil merk Z" jawab nara sumber ( mulai mencocokkan sinyalemen target )

"Iya, rambutnya berombak, seperti foto ini " sambil menunjukkan foto target ( mengklarifikasi foto dan sinyalemen target )

" Oooo, Pak A yang itu, kalau itu, tinggal di blok XXX" jawabnya 

"Saya kira pak A1" sambungnya ( Informasi valid 90% plus tambahan informasi ada dua nama pak A, yang satu target yang satu lagi pak A1 )

"Kira-kira blok XXX, nomor berapa ya pak?, Saya mau kesana" tanya kita ( memastikan lebih spesifik lagi lokasi target dan keberadaan target )

"Kalau jam segini belum pulang pak, biasanya malam jam 23.00, kalau nomornya saya nggak tahu, yang pasti ada kandang burung besar di halaman depannya" jawabnya ( nilai informasi bertambah dengan jam pulang target,, sinyalemen rumah )

Dari sini informasi dianggap sudah cukup dan bisa kita susun laporan awal, masih membutuhkan validitas melekat ke lokasi target.

Seorang elisiator yang akan melakukan elisitasi dalam kegiatan intelijen mempunyai kriteria khusus. Kriteria tersebut adalah :

- Cerdas, dan memiliki pengetahuan yang luas, agar dapat mengimbangi pembicaraan nara sumber.

- Memiliki daya ingat yang kuat, karena dalam elisitasi tidak dimungkinkan untuk melakukan pencatatan, walaupun sudah ada alat bantu perekam suara yang praktis.

- Pendengar yang baik, Mudah bergaul dan mampu menjaga hubungan yang baik dengan orang lain.

- Tidak ceroboh, sabar dan mempunyai siasat.

- Mempunyai ketrampilan berkomunikasi, luwes dan menguasai bahasa nara sumber dengan baik.

Adapun teknik-teknik elisitasi yang dapat dilakukan saat menggali informasi dalam kegiatan elisitasi, sebagai berikut :

- Membuka suasana persahabatan, dan membuka perbincangan dengan sesuatu yang umum dan ringan dengan suasana ramah.

- Kendalikan dan jaga percakapan agar sasaran tetap tertarik dengan tema perbincangan tanpa merasa digiring ke topik tertentu.

- Elisitor harus mampu menjadi pendengar yang baik dan tidak terkesan menggurui.

- Tidak terburu waktu, harus sabar, tidak emosional.

- Tanggapi perbincangan dengan cerdas, jangan terlihat tidak tahu karena akan membuat sasaran berubah sikap.

- Amati bahasa tubuh, seperti reaksi menolak, marah, gelisah, tertekan atau tidak suka.

- Elisitasi harus diakhiri dengan wajar, kadang informasi yang diterima hanya sepotong-sepotong tetapi informasi tersebut biasanya akurat.

- Membuat laporan / catatan secepatnya agar tidak tertunda dan lupa.

Percakapan dengan metode elisitasi memerlukan teknik untuk mengarahkan pembicaraan dengan nara sumber :

- Gunakan informasi awal yang merupakan suatu fakta sebagai pancingan, misalnya kabar di surat kabar atau peristiwa yang umum yang sudah terjadi dan diketahui orang. ( Dari yang umum ke yang khusus )

- Ciptakan kepercayaan, tawarkan makanan, minuman, rokok atau permen. Atau apa saja yang bisa menarik minat nara sumber.

- Gunakan pendekatan ( Positif ), sanjungan dan pujian, yang tujuannya menarik simpati nara sumber untuk tetap bersimpati kepada kita, Ingat pepatah "Informasi mengalir kemana simpati itu di berikan".

- Gunakan pendekatan ( negatif ), dengan menolak pendapat nara sumber, hati-hati menggunakan cara ini, karena bisa mengawali perdebatan dan ketidaksukaan nara sumber kepada kita, yakinlah dulu bahwa kita sudah menguasai nara sumber baru kita gunakan teknik ini. Meskipun dengan emosi nara sumber kita bisa mendapatkan banyak informasi, tetap harus dipertimbangkan resiko dengan enggannya nara sumber melanjutkan pembicaraan dengan kita.

Dengan semakin sering kita berlatih elisitasi, diharapkan semakin halus kita berinteraksi ke nara sumber dan semakin memperkecil kegagalan operasi.

Sekedar sebagai penyegaran kepada para Ronin, Senopati Tanpa Lencana dan Senopati Tanpa Tuan yang berhati merah-putih, khususnya jaringan komunitas Pulvis Et Umbra Sumus.


Selamat berlatih ....

Salam bayangan ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LANGKAH PERTAMA MEMANG DIRANCANG UNTUK MENYIKSAMU

Ditengah Negara Broker ( 2 )