Seni dan Ilmu Intelijen ( 3 )
Desepsi
Desepsi atau Penyesatan ( Deception : Bhs Inggris ) merupakan kegiatan atau tindakan yang dirancang secara khusus untuk menyesatkan pihak lawan ( negara asing, organisasi, individu, saingan bisnis ) melalui manipulasi, distorsi informasi, pemalsuan barang bukti, untuk menyuntikan reaksi-reaksi yang didorong oleh prasangka sesuai dengan kemauan atau kepentingan kita ( Cipta Kondisi ).
Ada beberapa alasan mengapa melakukan desepsi :
1. Untuk mengalihkan perhatian lawan dan menyebabkan konsentrasi lawan pada tempat dan masalah yang keliru atau kurang tepat sasaran.
2. Untuk mendorong pihak lawan melanggar prinsip-prinsip dasar kekuatan, dimana lawan akan menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang tidak perlu atau membuat kedoknya terbongkar.
3. Untuk memberikan kejutan kepada lawan dengan menciptakan situasi yang kemudian menyebabkan lawan tidak atau kurang waspada dan tidak siap menghadapi pendadakan.
4. Mengukur kekuatan lawan sebelum misi sesungguhnya di laksanakan.
Dalam belajar singkat ini, kita sengaja tidak akan mengungkapkan pelajaran-pelajaran super rahasia karena hal itu akan melanggar etika profesional dimana suatu ilmu walaupun netral namun tidak dapat secara sembarangan disebarluaskan kepada publik. Adapun pelajaran desepsi ini sebenarnya sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita
Sebagai contoh, ketika kurang berhasil dalam suatu bidang, entah pelajaran sekolah, pekerjaan, bisnis dan masih banyak lagi, seringkali kita tergoda untuk melakukan desepsi kepada lingkungan guna mengalihkan perhatian dari soal prestasi kepada soal lain. Produk-produk tertulis berupa buku, majalah, koran dll juga sering memuat desepsi baik disadari maupun tidak. Pilihan-pilihan kata yang positif terhadap salah satu calon Presiden dan labelling calon Presiden yang lain dengan asosiasi tertentu juga merupakan salah bentuk desepsi yang tujuan sesungguhnya sudah dapat ditebak oleh publik.
Namun karena publik cenderung malas untuk memilah dan meneliti informasi, maka hal pertama tertangkap oleh benaknya adalah yang mudah diingat, beda dengan kita yang memegang prinsip Trust No One, selalu akan mencari kisah di dalam kisah.
Iklan-iklan yang sering kita lihat di billboard, TV maupun media lainnya. Meskipun tidak 100% bohong, namun didalamnya mengandung desepsi yang dapat membuat kita menginginkan barang yang diiklankan, sebagai salah satu contoh.
Contoh-contoh tersebut sebenarnya kurang tepat karena tidak memenuhi definisi lawan dalam dunia politik antar negara.
Contoh dari sejarah perang dunia adalah penggunaan dummy tank dalam Perang Dunia II yang dipelopori oleh Inggris. Teknik desepsi militer ini kemudian dipergunakan baik oleh Sekutu maupun Kekuatan Poros Jerman, Jepang, Italia.
Kisah perang yang paling terkenal tentunya adalah perang di Pantai Normandy, dimana peranan intelijen dan konter-intelijen sangat vital dan operasi desepsi menjadi salah satu kunci kemenangan Sekutu. Operasi Desepsi yang dikembangkan oleh Sekutu tersebut diberi kode Operation Fortitude
Serial belajar singkat ini, hanya untuk merangsang sahabat Blog Pulvis Et Umbra Sumus, para Ronin, Senopati Tanpa Lencana dan Senopati Tanpa Tuan, agar memiliki pemahaman dasar yang penting dalam menjalani kegiatan baik yang berada di dunia intelijen, militer dan keamanan maupun yang tidak.
Karena pengetahuan dasar ini sifatnya logis baik dalam level taktis maupun strategis, dimana juga akan bermanfaat dalam memahami lingkungan kerja, dunia politik, dunia ekonomi, dll
Namun untuk menguasai salah satu keterampilan intelijen yang nampak sederhana ini, tidak cukup hanya dengan membaca Blog ini saja, yang mencoba menampilkan instisarinya. Sahabat semua perlu memacu diri untuk giat dan rajin membaca buku-buku pelajaran intelijen dan sejarah.
Salam Indonesia Raya ...

Komentar
Posting Komentar